Pages

Showing posts with label curhatan si ceriwis. Show all posts
Showing posts with label curhatan si ceriwis. Show all posts

Thursday, June 17, 2010

5 Human's Ego

I'm not an acting or performing person, but the chance to join a three days workshop with namely famous acting coach like Margie Haber is really thrill me. So here come Paru, my new account executive for Hers Magazine. He was persuaded me to join this class or I must say to cover this event, and having interview with Margie herself. FYI, she is the number one acting coach on Hollywood, have been teaching acting for like 20 more than years of her life. She also making Brad Pitt from zero to superstar as well as Halle Berry.

So there I go on the night before the event, sitting on a bar chair in hotel's pastry lounge waiting my chance to chit-chat with Margie. I was like cannot control my nerves, I just can't believe I'll talk with the one who teach Brad Pitt Acting! To make it short, I'm having like 45 minutes chit-chat, talking about her career, my career, the relationship between those acting-technique and the basic communication. Then my conclusion is this person is totally charming.

On the first day, I was like really exiting. Having my best friend Upeh accompany me and making new friends with the other participant it makes me feel exited. Mostly the one who joined this workshop is genuine Indonesian artist, famous movie star, famous writer, famous singer, famous radio announcer (well, these guy is actually on my side, THE MEDIA PEOPLE) and others who has a great passion on acting.

Me and Upeh was like, sitting there, analyzing the situation, making friend and so on. For me is a good opportunity to learning the other way of communication. Then Margie told us about this 5 human's ego. This ego or we must a voice inside our brain, is very natural. Everyone has it. The problem is sometimes we do not understand our ego.

Here the 5 human's ego:
1. Critical Parents
You hated when your parents worries about you all the time. You hate being treated as a baby? Well, your parents play a critical voice. Always worries all the time.

2. Nurturing Parents
Your parents worry about you but they give you a chance and put a trust on you. They let you do extreme sport, but they also tell you what they feel I you hang on that robe doing bungee jumping from 50 meter building. So that what we call it as a nurturing voice

3. Fearful Child
Doesn't has any guts to do anything. Always worries about what people think about you. That is fearful child!

4. Playful Child
Likes to do anything without thinking. Never worries about what people says about you. Feel confidence anytime anywhere you go.

5. Adult Voice
Has an equal size of fearful and playful.

Where am I? I have the fearful child equal to playful. I think what I need to improve is the adult voice and the nurturing parents to make it balance.

So what are you?

Tuesday, April 27, 2010

Social NOT-Working

Ingatkah Anda dengan romantisme telepon di tahun 90-an? Di saat Nokia baru saja mengeluarkan unit nya yang mirip seperti pisang, dan pager adalah benda paling modern yang bisa digunakan manusia untuk berkomunikasi. Oh, tak ketinggalan telepon umum dengan kartu, yang menjadikan saya (anak SD) di era 90-an menjadi anak paling cool satu kelas jika memiliki kartu telepon ini :D.

Back in the days
Sebelum semua komunikasi beralih pada media internet dan jaringan pertemanan belum dikenal, romantisme ala Pak Pos dan telepon menjadi bentuk komunikasi sejatinya, selain tentu saja tatap muka alias face to face. Butuh usaha yang extra untuk menyambung tali silahturahmi dan membina persahabatan.

Saat ini maknanya mulai bergeser. Tidak butuh usaha extra keras sekadar menyambung tali silahturahmi. Sekadar (sekedar-tidak baku) disini memang memiliki makna denotasi yang mengacu pada "hanya untuk", "seperlunya", "seadanya" dan lain sebagainya. Kembali ke jaman sebelum jaringan pertemanan itu booming, romantisme seperti yang saya terangkan diatas tadi merupakan suatu bentuk dari apa yang disebut dengan "kualitas" dalam menjalin pertemanan.

Tidak hanya sekadar melakukan langkah-langkah add, approve, dan voila! "Berteman". Pernyataan lebih lanjutnya adalah Berteman dengan "akrab" dengan seseorang di facebook, twitter, blog, atau sering online chatting tidak menjadikan Anda "forever bestie".

The Side Effect
Ada gula ada semut. Ada sebab dan ada akibat. Dalam kasus ini yang sering dijumpai adalah karena terlalu sering Anda dan teman satu gank terlibat dalam perbincangan seru di dalam ruang maya, maka ketika Anda bertemu sudah tidak ada topik menarik lagi yang dibahas. Beberapa sudah orang mengalaminya (bersyukur saya tidak atau belum mengalami ini!).

Mungkin situasi yang paling gila adalah ketika Anda dan gank Anda pada akhirnya bertemu-muka, masing-masing orang sibuk memperhatikan piranti keras komunikasnya bernama blackberry. Sounds familiar? Apakah persahabatan "bagai kempompong" Anda masih seru? Saya ragu Anda menjawab "iya".

Now and Then
Tidak perlu menengok kebelakang dan terperangkap dalam "mesin waktu". Karena hidup untuk masa kini dan masa depan, pertanyaannya adalah "bagaimana seharusnya?". Agar Anda menjadi manusia masa kini seutuhnya yang memiliki kualitas pertemanan seperti Sherlock Holmes dan dr. Watson?

Apakah Anda punya beberapa tipsnya? Saya baru hendak berpikir untuk melakukan penelitian mengenai ini, haha. Solusi nomer satu dari saya adalah

"Perlu dipahami berkomunikasi secara online itu bukanlah cara komunikasi interpersonal yang sesungguhnya, melainkan bonus yang ditawarkan dari kemudahan teknologi masa kini".


Jadi, sebisa mungkin jagalah keseimbangan komunikasi "maya" dan "nyata" Anda dengan para sahabat dan orang yang paling Anda kasihi. Happy Online Everyone (^_^)#

Monday, February 15, 2010

The TMI Generation

I JUST WONDER what should I call my peers? I mean people in my ages, which actually being confused with this situation. Well, as I was born in 1987, so I could assume that am stuck in this things: MTV and Facebook era.

They who was born in the late 70's until early 90's was probably stated as MTV generation (including myself). But then again, the technology has develop rapidly and changes everything. So now we tweets, we share (or overshare?) anything in our facebook wall, we become idol wanna-be in myspace and youtube, and we become a CITIZEN Journalist (or melodrama-lunatic fools like I am, who likes to post my "briliant" thought) by blogging and so on.

Last night I read Glamour British february issue, and found this interesting article, titled "Attack of the Oversharers". The articles mostly shares about how facebook and twitter has changes people (I mean, people not to mention those international celebrities). How fb and twitter could make someone becoming oversharers, telling the world anything important and not-important-things for example, your sex-life, what you do when you drunk and so on.

"So what's the big deal? If you are not interesting, just unfollow them or remove them from a friend list!",
a voice far away in my deepest dark-heart cynically says that.

That sentence coincidentally appear after I read this:

"My friend Lou,20, split from her boyfriend Jhon,32, last November. The break-up had been though-he'd cheated - but she'd finally moved on to a shiny, new boyfriend. But even the shiny, new boyfriend couldn't take the sting out of the, "Hey, I'm getting married" post from Jhon that appeared on her Facebook wall three weeks ago. Lou was heartbroken. Jhon thought revealing his big newsto her in public, along with more than 400 friends, was perfectly fine".

HAH! See? So the boy is still not mature enough to deal with others, and the girl was a victim, poor girl.

So, should I say the I'm also part of the TMI* generation??? Unfortunately, the answer is PERHAPS

*TMI: Too Much Information

Tuesday, February 2, 2010

Hasil Tes Psikologi Iseng-iseng

Beberapa hari yang lalu saya ikut kuis psikologi dari sebuah web yang hasilnya menurut saya cukup valid hehehe… Saya dikatakan memiliki karakteristik yang disebut sebagai Grounded Thinker. Mirip-mirip dengan pribadi Capricorn sang kambing gunung.
Berikut adalah hasil dari sisi percintaan Grounded Thinker:

“Your hesitation in matters of love is rooted in your pronounced inner autonomy, among other things. You enjoy having a partner with whom you can have fun in your life, but it does not occur to you to make that interdependent with your satisfaction and happiness”.

----- Ini sangat benar! Menurut saya ketika Anda bersama seseorang Anda haruslah merasa bahagia, jika sebaliknya? Lupakan saja dia, ahahaha. Interdependent (rasa ketergantungan) terus terang sering membuat saya mendadak ill feel dan menjadikan saya “gerah”. Wajah tampan tidak dapat menipu saya! No mister, get back!

“You don’t have to rely on a relationship in order to feel good. Your large circle of friends, and many interests, occupy you and keep boredom and loneliness from emerging”.

----- Benar! Karena saya punya banyak teman-teman dan keluarga yang sangat berharga dalam hidup saya. Seperti lyric SPICE GIRL – Wannabe: ”If you wannabe my lover, gotta get with my friend. Taking is too easy but that’s the way it is”.

“Once you have decided on a partner, it is very important for you to preserve your space within your relationship, as well”.

----Ya, karena saya juga punya kehidupan jauh sebelumnya dan kehidupan saya tidak dapat saya lewatkan begitu saja. Begitu juga sebaliknya, bukan?

“You enjoy doing things with your partner, but it is not important to you that he/she shares all of your interests or has exactly the same hobbies”.

---- Anyway, saya senang mencoba hal-hal yang baru. Sangat cool untuk saya untuk mencoba hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Dan saya memang butuh orang yang bisa berbagi peran dengan saya, dalam hal apapun :D.

“You must have time to yourself anyway, so you can concentrate on your activities without having the feeling someone is looking over your shoulder”.

---- As I said before, saya sudah punya kehidupan jauh sebelum saya bertemu dengan siapa pun Anda. Mohon pengertiannya. Saya cukup mandiri untuk mengurus diri saya, dan saya mengharapkan hal yang sama sebaliknya(vice versa) :D

“Therefore, you need a very self- confident and independent person as a partner who can also occupy him/herself on his/her own without turning into Velcro - that would get old very quickly!”.

----- CRING CRING CRING! Saya bak mendapat hadiah dari mesin judi di kasino paling mewah di Las Vegas. Saya tidak percaya ini sampai saya mengalami sendiri, hahahaha. Dan yah, semua nasihat keluarga serta sahabat-sahabat itu memang damn right! I love you too guys, thank’s for the advice! Lain kali saya akan manut.com, hihihi.

Thursday, January 28, 2010

Saya Paling Benci…

…dengan laki-laki yang menilai semuanya berdasarkan materi. Ya! Saya cukup tegas untuk bisa berkata saya benci dengan laki-laki yang judgemental. Saya benci jika mendengar laki-laki berkata, “Perempuan yang kemarin sempat jadian sama saya hanya mengincar duit saya saja, biasalah, minta dibelikan ini-itu. Alat make up, handphone dan lain-lain. Biasalah perempuan, dimana-mana sih cuman bisa minta-minta”

Hey! Bagaimana kalau saya bilang, “Kenapa ya, kamu kok gak pinter banget? Masa iya mau dikadalin sama kadal? Masa iya, mau aja bela-beli ina-inu buat orang yang gak jelas kejuntrungannya? Masa iya kamu segitu gak bisa menilai perangai seseorang? Kenapa juga kamu jadi mengeneralisir perempuan? Kalau dikeluarga kamu seperti itu, bukan berarti orang-orang lain di luar sana sama seperti keluarga kamu!”
Sakit hatikah pria-pria ini?

I don’t think so


Saya juga benci dengan laki-laki yang berpikiran, “Well, saya sekarang sudah naik jabatan. Dengan status baru ini saya akan mendapatkan semua perempuan yang saya mau. Saya cukup keren untuk menjadi “tentengan” untuk dipamerkan kepada teman-teman mereka. Saya hebat, saya jenius, saya saya saya…”

Yak! Cukup sampai disitu, bagaimana jika saya bilang, “So what dengan status baru kamu? Coba beli kaca yang besar, dan mulai memperhatikan diri. Pandang lekat-lekat wajah kamu, apakah kamu layak mendapat semuanya? Jangan-jangan banyak noda hitam yang nempel dimuka kamu tanpa kamu sadari. Ya! Noda hitam, noda hitam cerminan hati yang hitam dan pikiran yang sempit. Coba periksa kembali, apakah kamu memang cukup kece untuk dipamerkan? Dan yang paling penting, sadar gak sih SIAPA KAMU?”

Hahaha…maaf ya teman-teman yang gender nya laki-laki. Saya memang sinis, saya memang kurang ajar, saya memang sok tahu, dan saya sudah siap di cela. Dan…”I’m so ready being public enemy”

Maaf saya hanya mau menyindir mas-mas di busway tadi sore yang gayanya sejuta. Sayang, saya tidak tahu namanya, nomer tlpnya, alamat fb nya bahkan pin BB nya. Jadi, saya cuman bisa misuh-misuh disini. Saya cuman mau bilang kaki saya tadi sore sakit banget tau, kamu injek! Dan saya cukup pusing dengerin curhatan kamu sama sohibmu yang sama aneh wujudnya kayak kamu itu, dan saya mau jackpot berdiri disebelah kamu!!! Hueeekkk buaaauuu….

Rasa Coklat

Menjelang bulan Februari, dengan begitu banyak “drama” masalah percintaan disekeliling saya (dan telah saya lewati dengan sukses tahun lalu, hiks) saya melihat cinta dengan kacamata yang berbeda. Bahwa ungkapan “tahi kucing rasa coklat” itu memang ternyata berlaku bagi orang-orang yang sedang di mabuk asmara.
Saya mungkin pernah menjadi salah satu korbannya. Dengan optimis dan (sok) yakin, menjalani sebuah hubungan jarak jauh. Saking jauhnya terkadang saya sering kali ingin berteriak dan mendadak ingin bisa transporter seperti Harry Potter. Anyway, saya tidak akan membahas soal saya, dan sepertinya sudah cukup drama yang saya buat dengan nya (hai kamu, kalo kamu baca tulisan ini, I actually **** u there, hihi *centil mode on).

Mengingat bulan Februari setiap tanggal 14 banyak orang yang merayakan Val’s day, saya hanya ingin sedikit cerita, bukan bermaksud nyinyir, hanya mencoba mengungkapkan sebuah pikiran kecil yang mengganggu.

Tahun lalu, saya melakukan sebuah perdebatan seru dengan seorang teman (hm, mungkin lebih cocok disebut, frienemy: friend and enemy). Si teman saya yang memang jalur pikirannya “luar biasa” dari orang-orang kebanyakan ini bersabda: “sebenarnya rasa cinta itu semua adalah manipulasi, itu cuman sugesti tingkat tinggi”.

Saya, yang memang dasarnya tidak percaya adanya sesuatu yang tulus (well, jalur pikiran saya juga cukup “luar biasa”, no wonder saya bisa akrab sama si teman saya ini ya, hahaha), mengamini sabda teman saya.

Menurut saya:
“Masalahnya adalah ada orang yang mau melihat cinta dengan kacatama logika dan tidak. Ketika lu bilang bahwa itu adalah sugesti, ya memang itu adanya. Dan sugesti itu yang membuat istilah tahi kucing rasa coklat itu hadir di dunia ini”.
Sugesti itu yang(pernah) membuat saya susah bobok dan gak enak makan (halah, lebay banget deh). Mendengar suaranya saja sudah membuat jantung seperti naik jet coaster, apalagi jika tak sengaja bersentuhan? (akan saya buat menjadi sengaja, hehe). Kalau dipikir-pikir mungkin ya, apakah kita bisa hidup dengan si cinta itu?

Jawabannya bisa ya bisa tidak. Sampai kapan sugesti ini akan bertahan? Cukup lama pastinya. Cukup lama sampai suatu hari si korban menyadari bahwa pasangannya adalah mahluk tidak setia, cukup lama sampai suatu hari si korban menyadari bahwa pasangannya adalah mahluk matre yang tak terkendali, atau hanya mengejar status, atau hanya ingin “memanas-manasi” pasangan yang sebenarnya dan lain-lain. Namun, menurut pendapat saya dan teori saya yang (lagi-lagi) sok tahu ini, jika tidak ada hal-hal yang negative menghampiri, maka tahi kucing rasa coklat itu akan berlaku hingga akhir hayat. Ini mungkin yang terjadi dengan mba Cinderella, dan Sleeping Beauty ya, hehehe.

Apakah benar, seseorang menikah karena cinta? Bukan karena logika? Bukan karena harta? Bukan karena status di masyarakat? Bukan karena bibit, bebet, bobot? Bukan karena….banyak pastinya.

Teman saya bertanya:
“Nah, sekarang gini deh, menurut lu masih ada emang orang yang nikah karena cinta? Kayak yang di film-film teenager dan roman picisan gak mutu yang sering lu tonton itu, heh?”

Saya dengan yakin:
“Well, yah sebenernya sih gw juga sangsi ya. Kalo gw sih (sepertinya) tidak akan begitu. Menyatir kata-kata nyokap gw witing tresno jalaran soko sembrono. Tapi pasti diluar sana,masih banyak yang tidak sinis seperti gue (dan elu). ”, ujar saya sedikit memberi filosofi yang (sok) njaweni, hehe.

Ibu saya tidak percaya bahwa cinta datang karena terbiasa (witing tresno jalaran soko kulino). Ibu saya kerap kali meyakinkan saya, “Cinta itu (sering) datang karena kita sembrono, non”.

Dan hingga detik ini saya hanya bisa bilang “tahi kucing rasa coklat” itu rasanya (ternyata) enak loh!, hehe

Friday, December 4, 2009

The Student Part 1

Satu hal yang membuat saya senang belakangan ini adalah soal perubahan status. Saya tidak lagi menyandang sebutan "mahasiswa". Saya sudah resmi menjadi sarjana komunikasi, yang dengan bangga saya persembahkan untuk kedua orang tua dan keluarga besar Bangsa Dewa (hm, yah The Hardjosoemarto sepertinya juga turut ambil bagian sebenarnya).

Berhubung hampir dua tahun terakhir ini saya habiskan menjadi asisten dosen di sela-sela kesibukan menjadi jurnalis full time disebuah majalah, saya mendapatkan sekaligus dua pengalaman berbeda. Baiklah, jika bicara soal profesi jurnalis sepertinya sudah umum ya. Mungkin saya akan share dikemudian hari.

Saat ini berhubung saya sudah berganti status dan kebetulan memiliki minat besar untuk melanjutkan perjuangan "mencerdaskan anak bangsa", maka saya sedang seru-serunya "magang" sebagai dosen.

Saya senang berada di depan kelas dan membagi sesuatu yang saya punya. Hanya saja belakangan saya merasa, selain mendalami fotografi, sebaiknya saya mulai belajar ilmu psikologi. Dengan kemampuan membaca bahasa tubuh yang saya dapatkan ketika membaca bahan skripsi karya Alan Pease, saya pun dapat menyimpulkan beberapa kategori mahasiswa. Oh, selain itu, maaf jika pengamatan saya kurang scientific, maklum saya ini psikolog wanna be yang kelewat sok tahu. Berikut adalah daftar kategorinya:
1. Smart People
Biasanya duduk di barisan nomor satu atau dua dari depan. Selalu datang tepat waktu dan jarang sekali absen, kecuali sedang sakit. Selalu membuat catatan-catatan kecil di dalam bindernya, dari materi pelajaran hingga quotes dari sang dosen yang kadang-kadang sedikit menyelipkan kata-kata motivasi. Binder-nya sendiri juga merupakan bagian dari identitas diri. Ada yang kreatif membuatnya seolah-olah scrappbook, ada yang menghiasi dengan foto-foto orang-orang tersayangnya, bahkan banyak juga ternyata yang memajang foto telanjang dada artis KoreaRAIN (astaga dragoon) dan asian idol lainnya. Mereka biasanya kritis dalam menyikapi kuliah yang diberikan.

2. Telaters
Ini adalah orang-orang yang sering kalau tidak selalu datang telat di tiap sesi. Alasannya beragam, dari ban motor kempes, ketiduran di kereta, hingga alasan klise seperti macet dan telat bangun. Biasanya mereka juga tidak hanya telat dalam menghadiri kelas, namun juga cukup "telat" untuk mencerna pelajaran. Tampilan luarnya mungkin menarik, namun jangan tertipu kawan, mereka adalah orang-orang yang "sulit".

3. The Kepo
Kepo artinya adalah sok mau tahu. Paling tidak setiap kelas dan setiap angkatan punya satu dari jenis ini. Mereka merasa sangat dekat dengan sang dosen atau asisten dosen, merasa tiga langkah lebih pintar dan sering melontarkan ucapan-ucapan yang membuat satu kelas ingin melayangkan bangku atau laptop mereka. Biasanya jenis ini terkenal dengan sikap menjilat tingkat dewa (meminjam istilah teman kantor saya Arletha). Tak jarang mahasiswa dari kategori ini bersikap tidak sopan kepada dosen maupun asisten dosen, sikap sok tahunya kerap kali mengganggu baik di waktu kuliah maupun diluarnya.

4. The Businessman
Orang-orang ini mungkin memiliki naluri dan bakat yang hebat dalam berdagang. Selalu membawa barang dagangan setiap hari dari mulai sarapan, hingga handphone. Mahasiswa seperti ini biasanya cukup aktif dan smart. Mereka benar-benar bisa memanfaatkan peluang dan kemungkinan besar akan menjadi sukses dengan keuletannya. Biasanya sih para mahasiswa dari etnis tionghoa dan padang yang sering terlihat menunjukkan bakat-bakat ini, hihi.

5 . The Rock n Roll
Sebenarnya ini adalah julukan bagi mereka yang sering mengulang kelas, dikampus saya disebut dengan cross enroll. Biasanya adalah para veteran yang karena masalah absen atau nilai yang benar-benar parah, maka mereka harus mengulang. Mereka biasanya kerap kembali ke jurang yang sama, jarang masuk, mengerjakan tugas tidak maksimal atau menyerahkan tugas melewati deadline. Biasanya terlihat agak menyendiri dari teman-teman sekelasnya, atau membentuk kelompok duduk sendiri dengan orang-orang yang senasib dan sepenanggungan.

6. The Beauty and The Brainless
Jenis ini entah kenapa belakangan sedang marak. Saya tidak yakin apakah ini tren atau memang sistem rekruitmen yang perlu diperbaiki lagi. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang terlahir beauty, namun tidak memiliki kapasitas akademis seperti wujudnya secara fisik. Saya sempat berteori bahwa mereka mungkin saja kuliah hanya untuk sekedar mengisi "waktu luang". Mereka berusaha untuk terlihat fashionable, namun kebanyakan malah berkakhir menjadi fashion victim. Sering mengobrol, satu-satunya berita ter update yang mereka tahu adalah bahwa sahabatnya sedang BT karena memergoki pacarnya selingkuh. Tentu saja itu adalah hasil dari penelusuran tekun dari facebook dan twitter. Sering merasa tidak punya waktu untuk melakukan riset via google dengan blackberry di tangan. Bahkan saya curiga mereka tidak tahu bagaimana caranya googling (OH MY GOD!)

Berbicara dengan tipe seperti ini dibutuhkan 1 ton kesabaran dan 2500 kg toleransi.

Sekian perkembangan mahasiswa di tahun 2009. Semoga di tahun 2010, saya diberi kesabaran yang lebih dan dikelilingi dengan mahasiswa yang cukup "niat" untuk menjadi sukses.

Wednesday, November 11, 2009

Be or Not To Be

Being married or not at all!

Sebuah kata-kata klise, life is all about choices, tidak pernah ada matinya. Teman saya, Flo, punya cara lebih oke untuk mendeskripsikan betapa hebatnya kata-kata itu: JUARRRAA!.

Siang hari yang lumayan terik tadi, saya berjumpa dengan Devy, seorang sohib yang sempat berbarengan sejak saya masih lugu dan culun di awal-awal kuliah (well, sekarang si culun ini masih lugu sih, tapi sudah bisa menerima realita hidup). Devy dan saya punya satu wish yang sampai saya menyandang gelar S.Si dalam beberapa hari ini, masih belum kesampaian. Kami sangat ingin bertandang ke negeri Cina. Kenapa? Karena kami terhipnotis dengan bahasanya.

Terlepas dari semua huruf kanjinya yang seperti cacing, dan logat yang seperti marah-marah, bahasa Cina merupakan sebuah rangkuman budaya dan sejarah yang dikemas dengan bumbu-bumbu sastra. Anyway, pembicaraan pun mulai bergulir kearah yang lebih serius. Biasalah, baru lulus jadi mahasiswa, jadi pembicaraannya seputar dunia kerja dan info lowongan kerja. Tiba-tiba si Devy membuka topik baru, "Lu tau gak sih, si anu (hm, saya lupa namanya siapa, saya juga gak kenal sebenernya) kan mau married?", ujar Devy sangat bersemangat.

Saya yang memang dasarnya tidak kenal sama si anu itu, dan masih penasaran dengan es batu di teh manis yang saya seruput dari awal pembicaraan, hanya menggeleng kecil. Si Devy masih belum mau pindah topik, "Gile ya, gw jadi takuut banget mikirin married des. Lu tau ga sih, 8 dari 10 orang yang married itu selingkuh. Gw rasa gw gak akan bisa maapin suami gw nanti kalo dia sampe selingkuh, bisa ill-fill parah gw nanti deh", cerocos si Devy tambah berapi-api.

Saya yang masiih sembari mencoba mengulum es batu daritadi, mendadak bingung. "Hah? Itu penelitian hipotesisnya apa, valid ga tuh? pake berapa variable? Kuanti kan lo? Ayo jelasin ke gw deh", jawab saya mulai ngawur, maklum aura-aura dikejar-kejar sama skripsi masih berasa dihati ini,walaupun sebenarnya saya kualitatif yang sangat kritis. Devy mulai sewot dan mencoba membuka mata sipitnya lebar-lebar, maksudnya mau melotot tapi tidak begitu sukses hasilnya, hihi.

"Idih, lu kok jadi paranoid sih Dev, jalani saja hidup ini dulu. Pelan-pelan aja, dan memang pada akhirnya kita mesti pasrah sama Tuhan juga sih", ucap saya berusaha tetap kalem. "Lagian itu hasil riset darimana sih? Orang selingkuh pasti ada sebab Dev. Semua ada sebabnya, jadi ga bisa di generalisir gitu dong. Makanya lu jadi parno sendiri kalo gitu", lanjut saya.

"Iya, gw ngerti Des, tapi itu yaa gw sih belum siap deh disuruh nikah buru-buru. Kalo calon suami gw udah mapan sih ga masalah deh, kalo masih kayak anak-anak, idiih", Devy kembali gemes.

"Nah, sekarang gw tanya deh, yang nyuruh elu buru-buru nikah siapa emangnyaa coba? Ga ada kan?? Deuiilee, calonnya aja dulu Deev, huahahhaa", seloroh saya antara geli dan kesel.

Si Devy akhirnya tersadar, "Iya ya, gw kok bego banget sih, calonnya aja dulu yaa Des, baru lu mikir nikah. Calonnya gak ada sih mau nikah sama siapa coba?".

Nah, ini dia masalah yang sampe sekarang kalau saya ditanya saya masih bungkam seribu bahasa, soal pernikahan dan calon-calon. Saya belum berpengalaman sih dengan pernikahan, kalau pun ada biasanya jadi pager ayu atau penerima tamu. Akhirnya dengan nada menyesal, saya menyarankan Devy untuk berkonsultasi dengan sohib lain yang sudah menikah dan punya satu momongan.

Sepertinya si Devy mulai capek dan menerima saran saya dengan senang hati.

Sunday, September 27, 2009

Nikita Willy dan Tante-tante umur 30-an

Sebelumnya, "kulo nyuwun pangapuro, nggih mbak yu.."

Bagi para perempuan yang umurnya sudah hampir menginjak 30 atau sudah diantara 30 something. Bukan bermaksud menyindir soal umur, lha wong saya ini juga kan perempuan, omong-omong soal umur memang sering membuat senewen, hehehe.

Ada beberapa alasan mengapa dari dulu saya tidak kepingin untuk ikutan bekerja di industri media TV, production house yang memproduksi sinetron dan infotainment khususnya. Idealisme saya lumayan alot (keras) dalam sisi "mencerdaskan kehidupan bangsa". Yah, walaupun pekerjaan saya sekarang ini juga bisa dikatakan bagian dari komplotan "pembodohan massa", tapi setidaknya, yang saya kerjakan bersifat verbal. Tulisan. Hahaha, ngeles sih memang.

Beberapa hari terakhir ini saya merasa tergugah dengan salah satu stasiun TV, yang sepertinya pemasukan nomer satunya adalah dari sinetron-sinetron berseri panjang itu. Disanalah saya melihat sosok nikita willy. Kalau si mba shanti ga bilang, "dek, tau ga sih, si nikita willy itu kan umurnya masih 15 taunan gitu". Saya benar-benar terkejut! Saya pikir dia seumuran dengan saya, yah at least 20 years old!.

Masih dengan memegang erat stoppless berisi kue sagu mocca, dengan wajah bingung dan mata yang sok dilebar-lebarkan (yaah, mau bagaimana lagi, saya memang sipiit, hhh), saya sedikit menjerit, "'Bo'ong lo mbak! Gak mungkin! Dia kan seumuran sama aku!" masih dengan pd jaya saya berseloroh.

Si mbak Shanti yang sepertinya, gemes melihat ekspresi saya langsung menyodorkan tabloid gosip terbaru. Dibukalah lembaran-lembaran itu, dan berkatalah Ia, "Tuh baca tuh! Ga percaya banget sih!". Masih dengan mata nanar dan mulut penuh dengan kue sagu, saya hanya bisa pasrah sembari manggut-manggut keheranan.

Dipikir-pikir si niky (hihihi maaf ya mbak nikita willy, saya sok akribs) ini memang kelewat bermuka boros sepertinya. Gaya-nya sangat meyakinkan dia seumuran dengan saya bahkan lebih tua! Heran deh disaat perempuan berlomba-lomba tampil awet muda diusia menjelang 30-an, si niky malah dengan rela menjadi kelihatan tua 5 tahun daripada umur aslinya.

Beberapa sepupu saya, kebetulan lahir di tahun akhir70-an atau awal 80-an. Kebanyakan dari mereka sudah punya buntut paling tidak satu momongan lah. Hm, tapi tidak satu pun dari mereka happy dipanggil tante. "Berasa tuaa banget gitu deh. Kalo bukan keluarga yang manggil, gw bisa sewot seharian tuh!", begitu pengakuan salah satu sepupu yang tahun ini usianya genap 30.

Lalu, saya jadi terheran-heran. Jika si niky diumurnya yang belum 17 tahun sudah berlagak seperti tante-tante, bagaimana nasibnya nanti jika memang sudah benar-benar dewasa? Ini sebenarnya salah ibu si artis yang kelewat oportunis (bravo!) atau memang abg-abg ini berwajah boros?

Huaduh, jangan-jangan saya termasuk abg yang boros nih?! Sepertinya iya, berat badan saya sepertinya kelewat boros hahhaha....

Monday, September 7, 2009

aksi=reaksi

“Sebuah aksi akan menciptakan reaksi” dikutip dari Ary Ginanjar of ESQ

Well, saya bukan orang yang religius, I would like say that. Tapi saya cukup spiritual. Saya percaya adanya Tuhan, surga, neraka dan semua nabi serta malaikat-Nya. Bagi saya agama adalah sebuah sugesti. Sugesti tingkat tinggi tentunya. Agama itu perlu, agar manusia punya pegangan secara mental dan batin. 

Dengan sugesti manusia menjadi lebih yakin dan karena itulah agama sering kali disebut keyakinan. Manusia butuh pembenaran, sekaligus butuh aturan-aturan. Dikatakan aturan jika sesuatu itu memiliki batas, dan sesuatu yang dibatasi tidak nikmat adanya. Akan tetapi aturan tersebut ternyata memang diperlukan manusia, untuk mengingatkan bahwa manusia adalah homo sapien. Mahluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Homo sapien bagi saya memiliki arti lebih dari sekedar mahluk sosial. Manusia tidak baik jika menjadi pribadi yang egois. Mengapa? Karena manusia mahluk sosial yang hidupnya pasti akan menyangkut hidup orang lain. Jika salah satu manusia itu egois maka temannya pasti akan mendapatkan dampaknya (baik atau buruk) dan begitu juga sebaliknya. 

Agama dan logika adalah dua hal yang tidak dapat disandingkan dengan serasi. Logika ada sebelum agama dan agama pun ada sebelum logika. Namun, ada kalanya pembicaraan agama tidak dapat dikaitkan dengan logika matematika. Maka jangan heran, jika banyak professor cerdas diluar sana yang pada akhirnya memilih untuk tidak memeluk agama apa pun. Mereka bukannya tidak punya keyakinan, tentu mereka punya. Tapi mereka memilih untuk tidak yakin dengan sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang diawang-awang dan tidak dapat dibuktikan dengan teori-teori dan analisa. 

Hidup adalah pilihan, dan semua mahluk hidup bebas memilih jalannya masing-masing. Hanya saja dengan akal pikiran (brainware, ahahhaa I always say that) yang dikaruniai Tuhan (apa pun sebutan Anda), sudah sepantasnya manusia bisa melihat mana yang benar dan yang salah. Menurut hemat saya tidak ada yang mutlak di dunia ini selain Tuhan, semua jawaban benar dan salah adalah relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa yang mengatakan. Lagi-lagi ini berkaitan dengan logika. Semakin banyak manusia itu belajar (tidak harus melalui pendidikan formal) dan melihat dunia, semakin banyak mereka memiliki referensi dalam bertindak. 

I would like to say think before act and always sure your act is definitely right


-just an opinion from an ordinary young adult-


Sunday, June 28, 2009

Sarjana Palsu

Saya sedang menyusun skripsi. Dalam beberapa bulan kedepan, saya akan maju untuk sidang skripsi dan kemudian selesailah pertarungan di tingkat strata satu ini. Pertarungan yang belum pasti hasilnya menang atau kalah, tapi saya selalu optimis saya adalah pemenang. The winner takes it all: ijazah, tanda tangan dari dosen pembimbing, wisuda dan kebahagian yang tak terperi. 

Detik-detik menjelang pertarungan akhir ini, saya jadi merasa terbebani. Mungkin cuma saya sih yang merasa, teman-teman seperjuangan saya toh tak begitu peduli. Jika lulus nanti saya akan menjadi sarjana di bidang komunikasi. Which is means, kalo semisal saya bertandang ke rumah nenek saya di kampung, dan si nenek dengan bangga bercerita dengan sohib-sohibnya, saya akan mendengar pernyataan yang kira-kira begini bunyinya, ”Waah ndhuk, sokoor-sokooor...wis dadi sarjana komunikasi. Komunikasi-nya mesti jago banget yaa...” 

Well, bilang saya lebay, memang banyak yang suka bilang saya begitu. Tapi imajinasi saya ini mungkin saja terjadi. Mungkin dengan konteks yang berbeda. Intinya adalah saya selalu merasa orang lain mengharapkan lebih dari seorang sarjana. 

Misalnya saya, selalu menganggap kakak saya yang sarjana sistem informatika adalah perempuan yang techie dan kakak laki-laki saya yang gelar sarjananya di bidang administrasi negara adalah seorang yang penuh birokrasi. Ini yang menjadi beban. Ibarat seorang penyanyi dangdut yang sedang sakit flu tulang, tidak bisa bernyanyi dan bergoyang dengan aduhai bagi penggemar setianya.

Khawatir ketika nanti saya di tanya apa artinya ”wagu” dan mengapa koran Kompas menggunakan istilah itu di artikelnya saya tidak mengerti jawabannya. 

Kata itu saya temukan ketika membaca artikel tentang Lady Gaga di Kompas hari minggu. Judul lagunya Sexy Uggly, di artikan menjadi ”sexy wagu”. Kata yang belum pernah saya baca dan dengar sebelumnya, bahkan saya tidak tahu kalau itu ada di kamus bahasa Indonesia. 

Belum lagi kata yang spelling nya susah dan melafalkannya bisa membuat lidah agak-agak pegal. Seperti kata ”mengejewantahkan”. Nah lho! Saya khawatir akan terjerumus ke dalam lingkaran setan dimana kebanyakan sarjana komunikasi yang tidak kompeten di bidangnya. Tadi contoh pertanyaan yang saya ajukan mungkin kesannya intelek. Paling parah adalah pengalaman saya ketika menyapa seorang senior yang sudah menjadi sarjana komunikasi dan bertanya yang hal dasar, ”sebenarnya apa sih komunikasi itu?” dan jawabnya hanya sederhana, ”yaa..elu ngomong itulah komunikasi, gitu deh, gitu aja pake nanya”

Dasar sarjana palsu! 

Friday, June 19, 2009

Petitehistories.com











Mereka adalah ACCROCAP

Lima orang yang tergabung dalam sebuah kelompok tari asal Perancis

Mereka membawakan tari hip-hop yang diramu dengan pantomim khas Prtancis, permainan akrobat sirkus yang mendebarkan, teater, dan alunan musik akordeon yang selalu mengingatkan kita akan sepotong croisant dan menara Eiffel di Paris

Kelompok ini dibentuk bulan Desember 1989 di quatier St-Priest 

Telah berkiprah hingga saat ini dan banyak menghasilkan koregrafi yang bergaya "jalanan"

31 Mei lalu bertempat di Graha Bhakti Budaya, TIM mereka menyuguhkan karya terakhirnya yang bertajuk Petiteshistories.com

Kebetulan saya sempat bertandang untuk meliput dan kemudian berdecak kagum, bukan hanya karena jalinan cerita yang disuguhkan menggelitik dan sarat makna positif, tetapi juga penampilan beberapa penari membuat penonton terpingkal-pingkal

Kendala bahasa tidak menjadi persoalan, dengan bahasa Inggris patah-patah dan lebih banyak bahasa tubuh, penonton yang terdiri dari para expatriat Perancis dan juga penikmat seni tari tanah air seolah-olah larut dan saling mengisi kekosongan