Pages

Showing posts with label duck opinion. Show all posts
Showing posts with label duck opinion. Show all posts

Monday, February 15, 2010

The TMI Generation

I JUST WONDER what should I call my peers? I mean people in my ages, which actually being confused with this situation. Well, as I was born in 1987, so I could assume that am stuck in this things: MTV and Facebook era.

They who was born in the late 70's until early 90's was probably stated as MTV generation (including myself). But then again, the technology has develop rapidly and changes everything. So now we tweets, we share (or overshare?) anything in our facebook wall, we become idol wanna-be in myspace and youtube, and we become a CITIZEN Journalist (or melodrama-lunatic fools like I am, who likes to post my "briliant" thought) by blogging and so on.

Last night I read Glamour British february issue, and found this interesting article, titled "Attack of the Oversharers". The articles mostly shares about how facebook and twitter has changes people (I mean, people not to mention those international celebrities). How fb and twitter could make someone becoming oversharers, telling the world anything important and not-important-things for example, your sex-life, what you do when you drunk and so on.

"So what's the big deal? If you are not interesting, just unfollow them or remove them from a friend list!",
a voice far away in my deepest dark-heart cynically says that.

That sentence coincidentally appear after I read this:

"My friend Lou,20, split from her boyfriend Jhon,32, last November. The break-up had been though-he'd cheated - but she'd finally moved on to a shiny, new boyfriend. But even the shiny, new boyfriend couldn't take the sting out of the, "Hey, I'm getting married" post from Jhon that appeared on her Facebook wall three weeks ago. Lou was heartbroken. Jhon thought revealing his big newsto her in public, along with more than 400 friends, was perfectly fine".

HAH! See? So the boy is still not mature enough to deal with others, and the girl was a victim, poor girl.

So, should I say the I'm also part of the TMI* generation??? Unfortunately, the answer is PERHAPS

*TMI: Too Much Information

Thursday, January 28, 2010

Saya Paling Benci…

…dengan laki-laki yang menilai semuanya berdasarkan materi. Ya! Saya cukup tegas untuk bisa berkata saya benci dengan laki-laki yang judgemental. Saya benci jika mendengar laki-laki berkata, “Perempuan yang kemarin sempat jadian sama saya hanya mengincar duit saya saja, biasalah, minta dibelikan ini-itu. Alat make up, handphone dan lain-lain. Biasalah perempuan, dimana-mana sih cuman bisa minta-minta”

Hey! Bagaimana kalau saya bilang, “Kenapa ya, kamu kok gak pinter banget? Masa iya mau dikadalin sama kadal? Masa iya, mau aja bela-beli ina-inu buat orang yang gak jelas kejuntrungannya? Masa iya kamu segitu gak bisa menilai perangai seseorang? Kenapa juga kamu jadi mengeneralisir perempuan? Kalau dikeluarga kamu seperti itu, bukan berarti orang-orang lain di luar sana sama seperti keluarga kamu!”
Sakit hatikah pria-pria ini?

I don’t think so


Saya juga benci dengan laki-laki yang berpikiran, “Well, saya sekarang sudah naik jabatan. Dengan status baru ini saya akan mendapatkan semua perempuan yang saya mau. Saya cukup keren untuk menjadi “tentengan” untuk dipamerkan kepada teman-teman mereka. Saya hebat, saya jenius, saya saya saya…”

Yak! Cukup sampai disitu, bagaimana jika saya bilang, “So what dengan status baru kamu? Coba beli kaca yang besar, dan mulai memperhatikan diri. Pandang lekat-lekat wajah kamu, apakah kamu layak mendapat semuanya? Jangan-jangan banyak noda hitam yang nempel dimuka kamu tanpa kamu sadari. Ya! Noda hitam, noda hitam cerminan hati yang hitam dan pikiran yang sempit. Coba periksa kembali, apakah kamu memang cukup kece untuk dipamerkan? Dan yang paling penting, sadar gak sih SIAPA KAMU?”

Hahaha…maaf ya teman-teman yang gender nya laki-laki. Saya memang sinis, saya memang kurang ajar, saya memang sok tahu, dan saya sudah siap di cela. Dan…”I’m so ready being public enemy”

Maaf saya hanya mau menyindir mas-mas di busway tadi sore yang gayanya sejuta. Sayang, saya tidak tahu namanya, nomer tlpnya, alamat fb nya bahkan pin BB nya. Jadi, saya cuman bisa misuh-misuh disini. Saya cuman mau bilang kaki saya tadi sore sakit banget tau, kamu injek! Dan saya cukup pusing dengerin curhatan kamu sama sohibmu yang sama aneh wujudnya kayak kamu itu, dan saya mau jackpot berdiri disebelah kamu!!! Hueeekkk buaaauuu….

Rasa Coklat

Menjelang bulan Februari, dengan begitu banyak “drama” masalah percintaan disekeliling saya (dan telah saya lewati dengan sukses tahun lalu, hiks) saya melihat cinta dengan kacamata yang berbeda. Bahwa ungkapan “tahi kucing rasa coklat” itu memang ternyata berlaku bagi orang-orang yang sedang di mabuk asmara.
Saya mungkin pernah menjadi salah satu korbannya. Dengan optimis dan (sok) yakin, menjalani sebuah hubungan jarak jauh. Saking jauhnya terkadang saya sering kali ingin berteriak dan mendadak ingin bisa transporter seperti Harry Potter. Anyway, saya tidak akan membahas soal saya, dan sepertinya sudah cukup drama yang saya buat dengan nya (hai kamu, kalo kamu baca tulisan ini, I actually **** u there, hihi *centil mode on).

Mengingat bulan Februari setiap tanggal 14 banyak orang yang merayakan Val’s day, saya hanya ingin sedikit cerita, bukan bermaksud nyinyir, hanya mencoba mengungkapkan sebuah pikiran kecil yang mengganggu.

Tahun lalu, saya melakukan sebuah perdebatan seru dengan seorang teman (hm, mungkin lebih cocok disebut, frienemy: friend and enemy). Si teman saya yang memang jalur pikirannya “luar biasa” dari orang-orang kebanyakan ini bersabda: “sebenarnya rasa cinta itu semua adalah manipulasi, itu cuman sugesti tingkat tinggi”.

Saya, yang memang dasarnya tidak percaya adanya sesuatu yang tulus (well, jalur pikiran saya juga cukup “luar biasa”, no wonder saya bisa akrab sama si teman saya ini ya, hahaha), mengamini sabda teman saya.

Menurut saya:
“Masalahnya adalah ada orang yang mau melihat cinta dengan kacatama logika dan tidak. Ketika lu bilang bahwa itu adalah sugesti, ya memang itu adanya. Dan sugesti itu yang membuat istilah tahi kucing rasa coklat itu hadir di dunia ini”.
Sugesti itu yang(pernah) membuat saya susah bobok dan gak enak makan (halah, lebay banget deh). Mendengar suaranya saja sudah membuat jantung seperti naik jet coaster, apalagi jika tak sengaja bersentuhan? (akan saya buat menjadi sengaja, hehe). Kalau dipikir-pikir mungkin ya, apakah kita bisa hidup dengan si cinta itu?

Jawabannya bisa ya bisa tidak. Sampai kapan sugesti ini akan bertahan? Cukup lama pastinya. Cukup lama sampai suatu hari si korban menyadari bahwa pasangannya adalah mahluk tidak setia, cukup lama sampai suatu hari si korban menyadari bahwa pasangannya adalah mahluk matre yang tak terkendali, atau hanya mengejar status, atau hanya ingin “memanas-manasi” pasangan yang sebenarnya dan lain-lain. Namun, menurut pendapat saya dan teori saya yang (lagi-lagi) sok tahu ini, jika tidak ada hal-hal yang negative menghampiri, maka tahi kucing rasa coklat itu akan berlaku hingga akhir hayat. Ini mungkin yang terjadi dengan mba Cinderella, dan Sleeping Beauty ya, hehehe.

Apakah benar, seseorang menikah karena cinta? Bukan karena logika? Bukan karena harta? Bukan karena status di masyarakat? Bukan karena bibit, bebet, bobot? Bukan karena….banyak pastinya.

Teman saya bertanya:
“Nah, sekarang gini deh, menurut lu masih ada emang orang yang nikah karena cinta? Kayak yang di film-film teenager dan roman picisan gak mutu yang sering lu tonton itu, heh?”

Saya dengan yakin:
“Well, yah sebenernya sih gw juga sangsi ya. Kalo gw sih (sepertinya) tidak akan begitu. Menyatir kata-kata nyokap gw witing tresno jalaran soko sembrono. Tapi pasti diluar sana,masih banyak yang tidak sinis seperti gue (dan elu). ”, ujar saya sedikit memberi filosofi yang (sok) njaweni, hehe.

Ibu saya tidak percaya bahwa cinta datang karena terbiasa (witing tresno jalaran soko kulino). Ibu saya kerap kali meyakinkan saya, “Cinta itu (sering) datang karena kita sembrono, non”.

Dan hingga detik ini saya hanya bisa bilang “tahi kucing rasa coklat” itu rasanya (ternyata) enak loh!, hehe

Sunday, September 27, 2009

Nikita Willy dan Tante-tante umur 30-an

Sebelumnya, "kulo nyuwun pangapuro, nggih mbak yu.."

Bagi para perempuan yang umurnya sudah hampir menginjak 30 atau sudah diantara 30 something. Bukan bermaksud menyindir soal umur, lha wong saya ini juga kan perempuan, omong-omong soal umur memang sering membuat senewen, hehehe.

Ada beberapa alasan mengapa dari dulu saya tidak kepingin untuk ikutan bekerja di industri media TV, production house yang memproduksi sinetron dan infotainment khususnya. Idealisme saya lumayan alot (keras) dalam sisi "mencerdaskan kehidupan bangsa". Yah, walaupun pekerjaan saya sekarang ini juga bisa dikatakan bagian dari komplotan "pembodohan massa", tapi setidaknya, yang saya kerjakan bersifat verbal. Tulisan. Hahaha, ngeles sih memang.

Beberapa hari terakhir ini saya merasa tergugah dengan salah satu stasiun TV, yang sepertinya pemasukan nomer satunya adalah dari sinetron-sinetron berseri panjang itu. Disanalah saya melihat sosok nikita willy. Kalau si mba shanti ga bilang, "dek, tau ga sih, si nikita willy itu kan umurnya masih 15 taunan gitu". Saya benar-benar terkejut! Saya pikir dia seumuran dengan saya, yah at least 20 years old!.

Masih dengan memegang erat stoppless berisi kue sagu mocca, dengan wajah bingung dan mata yang sok dilebar-lebarkan (yaah, mau bagaimana lagi, saya memang sipiit, hhh), saya sedikit menjerit, "'Bo'ong lo mbak! Gak mungkin! Dia kan seumuran sama aku!" masih dengan pd jaya saya berseloroh.

Si mbak Shanti yang sepertinya, gemes melihat ekspresi saya langsung menyodorkan tabloid gosip terbaru. Dibukalah lembaran-lembaran itu, dan berkatalah Ia, "Tuh baca tuh! Ga percaya banget sih!". Masih dengan mata nanar dan mulut penuh dengan kue sagu, saya hanya bisa pasrah sembari manggut-manggut keheranan.

Dipikir-pikir si niky (hihihi maaf ya mbak nikita willy, saya sok akribs) ini memang kelewat bermuka boros sepertinya. Gaya-nya sangat meyakinkan dia seumuran dengan saya bahkan lebih tua! Heran deh disaat perempuan berlomba-lomba tampil awet muda diusia menjelang 30-an, si niky malah dengan rela menjadi kelihatan tua 5 tahun daripada umur aslinya.

Beberapa sepupu saya, kebetulan lahir di tahun akhir70-an atau awal 80-an. Kebanyakan dari mereka sudah punya buntut paling tidak satu momongan lah. Hm, tapi tidak satu pun dari mereka happy dipanggil tante. "Berasa tuaa banget gitu deh. Kalo bukan keluarga yang manggil, gw bisa sewot seharian tuh!", begitu pengakuan salah satu sepupu yang tahun ini usianya genap 30.

Lalu, saya jadi terheran-heran. Jika si niky diumurnya yang belum 17 tahun sudah berlagak seperti tante-tante, bagaimana nasibnya nanti jika memang sudah benar-benar dewasa? Ini sebenarnya salah ibu si artis yang kelewat oportunis (bravo!) atau memang abg-abg ini berwajah boros?

Huaduh, jangan-jangan saya termasuk abg yang boros nih?! Sepertinya iya, berat badan saya sepertinya kelewat boros hahhaha....

Monday, September 7, 2009

aksi=reaksi

“Sebuah aksi akan menciptakan reaksi” dikutip dari Ary Ginanjar of ESQ

Well, saya bukan orang yang religius, I would like say that. Tapi saya cukup spiritual. Saya percaya adanya Tuhan, surga, neraka dan semua nabi serta malaikat-Nya. Bagi saya agama adalah sebuah sugesti. Sugesti tingkat tinggi tentunya. Agama itu perlu, agar manusia punya pegangan secara mental dan batin. 

Dengan sugesti manusia menjadi lebih yakin dan karena itulah agama sering kali disebut keyakinan. Manusia butuh pembenaran, sekaligus butuh aturan-aturan. Dikatakan aturan jika sesuatu itu memiliki batas, dan sesuatu yang dibatasi tidak nikmat adanya. Akan tetapi aturan tersebut ternyata memang diperlukan manusia, untuk mengingatkan bahwa manusia adalah homo sapien. Mahluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Homo sapien bagi saya memiliki arti lebih dari sekedar mahluk sosial. Manusia tidak baik jika menjadi pribadi yang egois. Mengapa? Karena manusia mahluk sosial yang hidupnya pasti akan menyangkut hidup orang lain. Jika salah satu manusia itu egois maka temannya pasti akan mendapatkan dampaknya (baik atau buruk) dan begitu juga sebaliknya. 

Agama dan logika adalah dua hal yang tidak dapat disandingkan dengan serasi. Logika ada sebelum agama dan agama pun ada sebelum logika. Namun, ada kalanya pembicaraan agama tidak dapat dikaitkan dengan logika matematika. Maka jangan heran, jika banyak professor cerdas diluar sana yang pada akhirnya memilih untuk tidak memeluk agama apa pun. Mereka bukannya tidak punya keyakinan, tentu mereka punya. Tapi mereka memilih untuk tidak yakin dengan sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang diawang-awang dan tidak dapat dibuktikan dengan teori-teori dan analisa. 

Hidup adalah pilihan, dan semua mahluk hidup bebas memilih jalannya masing-masing. Hanya saja dengan akal pikiran (brainware, ahahhaa I always say that) yang dikaruniai Tuhan (apa pun sebutan Anda), sudah sepantasnya manusia bisa melihat mana yang benar dan yang salah. Menurut hemat saya tidak ada yang mutlak di dunia ini selain Tuhan, semua jawaban benar dan salah adalah relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa yang mengatakan. Lagi-lagi ini berkaitan dengan logika. Semakin banyak manusia itu belajar (tidak harus melalui pendidikan formal) dan melihat dunia, semakin banyak mereka memiliki referensi dalam bertindak. 

I would like to say think before act and always sure your act is definitely right


-just an opinion from an ordinary young adult-


Friday, May 8, 2009

Another story with Facebook


This below is a true story how technology changed human perspectives

Indonesian being addicted to something! It’s techy, it’s universal and its called facebook.There I go, to the biggest local book store in town (Gramedia-Matraman on Jakarta), desperately looking new manga (Japanese comic that has been translated to Indonesian), look what I found!!! Several, na’ah, I would say its much tutorial for facebook. 

As the Blackberry become the most wanted commodity in Indonesian (Jakarta especially), the need for being member of facebook also becoming a must thing to do. The elder society (this especially refers to my parents and lecturer-generations, which mostly computer illiterate), the one who says that technology is only for youngsters, now compete to be the first who uploaded their pictures, or commented on somebody’s wall. 

You don’t need to spend your time to go to hospital to visit your sick friend. Just browse their page, and commented their status. He or she may write something like, “at hospital, having a week of bed rest”. Simple sentences that mean the one who write it desperately need attention from all friends in the list. Another case is you send a greeting card to a friend who “just married” without attending the wedding party. 
Thanks to technology that closed the distance. The impact is slowly but sure risen up lately. Privacy as the celebrity used to say in infotainment program, is known as a big priced. Imagine a world without privacy! Everybody knows what you do in the past, present and maybe future! 

Autism maybe a popular words to say today. It sounds sarcastic and refers to them who addicted to facebook but did not taking much attention to their surroundings. It’s rude and impolite, but I still do not know how to illustrate laterally on addicted to facebook as well as messenger, online-gaming and so on. 

Welcome to reality : "technology makes the one who is far become closer and makes the close one becoming far"