Pages

Monday, September 7, 2009

aksi=reaksi

“Sebuah aksi akan menciptakan reaksi” dikutip dari Ary Ginanjar of ESQ

Well, saya bukan orang yang religius, I would like say that. Tapi saya cukup spiritual. Saya percaya adanya Tuhan, surga, neraka dan semua nabi serta malaikat-Nya. Bagi saya agama adalah sebuah sugesti. Sugesti tingkat tinggi tentunya. Agama itu perlu, agar manusia punya pegangan secara mental dan batin. 

Dengan sugesti manusia menjadi lebih yakin dan karena itulah agama sering kali disebut keyakinan. Manusia butuh pembenaran, sekaligus butuh aturan-aturan. Dikatakan aturan jika sesuatu itu memiliki batas, dan sesuatu yang dibatasi tidak nikmat adanya. Akan tetapi aturan tersebut ternyata memang diperlukan manusia, untuk mengingatkan bahwa manusia adalah homo sapien. Mahluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Homo sapien bagi saya memiliki arti lebih dari sekedar mahluk sosial. Manusia tidak baik jika menjadi pribadi yang egois. Mengapa? Karena manusia mahluk sosial yang hidupnya pasti akan menyangkut hidup orang lain. Jika salah satu manusia itu egois maka temannya pasti akan mendapatkan dampaknya (baik atau buruk) dan begitu juga sebaliknya. 

Agama dan logika adalah dua hal yang tidak dapat disandingkan dengan serasi. Logika ada sebelum agama dan agama pun ada sebelum logika. Namun, ada kalanya pembicaraan agama tidak dapat dikaitkan dengan logika matematika. Maka jangan heran, jika banyak professor cerdas diluar sana yang pada akhirnya memilih untuk tidak memeluk agama apa pun. Mereka bukannya tidak punya keyakinan, tentu mereka punya. Tapi mereka memilih untuk tidak yakin dengan sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang diawang-awang dan tidak dapat dibuktikan dengan teori-teori dan analisa. 

Hidup adalah pilihan, dan semua mahluk hidup bebas memilih jalannya masing-masing. Hanya saja dengan akal pikiran (brainware, ahahhaa I always say that) yang dikaruniai Tuhan (apa pun sebutan Anda), sudah sepantasnya manusia bisa melihat mana yang benar dan yang salah. Menurut hemat saya tidak ada yang mutlak di dunia ini selain Tuhan, semua jawaban benar dan salah adalah relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa yang mengatakan. Lagi-lagi ini berkaitan dengan logika. Semakin banyak manusia itu belajar (tidak harus melalui pendidikan formal) dan melihat dunia, semakin banyak mereka memiliki referensi dalam bertindak. 

I would like to say think before act and always sure your act is definitely right


-just an opinion from an ordinary young adult-


No comments:

Post a Comment